Budaya Tahunan yang diyakini masyarakat untuk menjauhkan dari malapetaka
Disudut desa yang terpencil nan jauh dari kebisingan dan keramaian, hari itu antusiasme masyarakat desa Lalang Luas Kecamatan V koto yang terletak paling ujung dari Kabupaten Mukomuko berbondong-bondong tua muda bahkan anak-anak sangat riang dan gembira desa yang sepi tiba-tiba ramai bercengkrama ada yang membersihkan pekarangan rumah, mengecat rumah dan pemuda pemudi orang tua, ada pula yang menuju suatu tempat jarak yang ditempuh dari rumah warga 500 meter dari belakang rumah warga dimana tempat yang dianggap suci oleh warga yaitu makam nenek moyang atau disebut makam Pemucak sebagai tempat pejuang atau leluhur yang dianggap Pahlawan desa, ditempat pemakaman yang terlihat usang yang tidak terurus tiba-tiba mendadak ramai ada yang membersihkan sekeliling makam ada yang menyapu,menebas rumput mengecat Pandopo dan ada yang membakar rumput tua muda bersama bergotong royong guna esoknya akan dilaksanakan doa bersama. Sementara disuatu sudut Pandopo terlihat seseorang yang berpakaian putih pakai peci di kepala yang dituakan didesa atau merupakan juru kunci makam atau disebut Labai ( orang yang sakti ). menyampaikan kegiatan ini merupakan kegiatan tahunan yang disebut didusun ini bayar hutang,kenapa dikatakan bayar hutang karena sebagai bentuk hutang bagi cucu yang masih hidup untuk memperingati bersama sebagai tradisi desa yang turun temurun sebagai bentuk menghargai jasa perjuangan dan usaha nenek moyang kita dahulu dalam mempertahankan hidup oleh berbagai serangan dimasa penjajahan Belanda dan Binatang buas dan lainnya. Oleh sebab itu sebagai bentuk rasa sukur masyarakat menghargai jasa para leluhur masyarakat memperingati setiap tahunnya dan memasak bersama di makam sebagai bentuk mempertahankan sifat kegotongroyongan dan mempertahan Kerjasama,sesudah masak bersama hidangan disediakan dan berdoa bersama biasanya juga dihadiri oleh bupati dan pejabat lainnya tutup seorang labai. Sementara sabagai pemegang wilayah yaitu bapak kades yang namanya Aman Zikri juga menyampaikan desa memperingati kerapatan adat ini sangat antusias seminggu sebelum acara para tetua mufakat dahulu menentukan agenda untuk memperingati agenda rutinitas doa tahunan dan Pemuda-Pemudi melaksanakan berbagai event olahraga yang dilaksanakan yang jelas desa selama lebih seminggu desa ramai karena anak muda melaksanakan beberapa tournament antar dusun terangnya . Budaya dari leluhur merupakan suatu karakter bangsa harus terus untuk dipertahankan ditengah gegap gempitan perjalanan dunia.
